Rizal Ramli menjelaskan bahwa melemahnya nilai rukar rupiah disebabkan lantaran bank-bank sentral negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Devolopment) sedang menjalankan sebuah program.
Baca Juga: Ngaku Sukses Bangun Jalan Raya, Tapi Jokowi Nggak Tau ini dan Malah Kesal, Netizen: Gausah Pura-pura Bego, Anda Presiden
"Rupiah semakin melemah karena Bank2 Sentral negara OECD sedang melakukan program anti-inflasi agresif dengan menyedot ekses likwiditas," ujarnya yang dikutip dari Twitter @RamliRizal, Kamis (29/8).
Selain itu, struktur ekonomi Indonesia lemah dan utang pemerintah telah mencapai angka Rp7.163,12 triliun, setara 39,56 persen produk domestik bruto (PDB) per Juli.
"Dan karena ‘kelemahan struktural’ ekonomi Indonesia dan ketergantungan utang sangat besar, yg sangat rentan terhadap gejolak tingkat bunga," ungkapnya.
Rupiah semakin melemah karena Bank2 Sentral negara OECD sedang melakukan program anti-inflasi agresif dengan menyedot ekses likwiditas dan karena ‘kelemahan struktural’ ekonomi Indonesia dan ketergantungan utang sangat besar, yg sangat rentan terhadap gejolak tingkat bunga. pic.twitter.com/Jh6D4cTwAw
— Dr. Rizal Ramli (@RamliRizal) September 28, 2022Kementerian Keuangan menyatakan bahwa utang pemerintah masih berada pada tahap aman dengan risiko terkendali, berdasarkan beberapa indikator risiko utang.
Sekedar informasi, utang pemerintah pada Juli didominasi oleh Instrumen Surat Berharga Negara (SBN) mencapai angka 88,5 persen dari seluruh utang.
Sumber: NewsWorthy
Artikel Terkait
[ANALISIS] Peringatan Keras Panglima TNI Untuk Prajurit Aktif Rangkap Jabatan
Jokowi Diminta Sembunyi Dulu 5 Tahun
Tegas! Dikontak Pertamina, Fitra Eri Tolak Tawaran untuk Bantah Isu Pertamax Oplosan
Intip Dua Sosok Istri Tersangka Mega Korupsi Minyak Mentah, Langsung Gembok Akun Medsos