"Cyberbullying di dunia digital sangat rawan sekali untuk anak-anak dan orang dewasa," kata Sekretaris RTIK Kabupaten Blitar, Nuriyan Dwi Saputri saat webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (2/7/2022), dalam keterangan tertulis yang diterima.
Beberapa contoh cyberbullying adalah doxing, membagikan data personal seseorang ke dunia maya. Kemudian cyberstalking mengintip dan memata-matai seseorang di dunia maya, termasuk membalas dendam melalui penyebaran foto atau video vulgar yang bisa juga untuk memeras korban.
Setiap orang perlu memahami dampak dari cyberbullying bagi korban, karena pada dasarnya sebagian pengguna juga tidak sadar saat berperilaku di media sosial. Padahal baik di kehidupan nyata maupun maya, kata-kata yang ditulis melalui kolom komentar juga ikut memengaruhi korban.
Secara mental korban bisa merasa kesal, malu, bodoh, bahkan marah. Sementara secara emosional korban bisa merasa malu dan kehilangan minat pada hal yang disukai. Bahkan dampaknya juga bisa ke fisik korban, seperti lelah karena kurang tidur atau mengalami gejala sakit perut dan sakit kepala.
Lebih parahnya lagi, cyberbullying juga memiliki dampak psikologis yakni mudah depresi, marah, cemas, merasa gelisah, menyakiti diri sendiri, hingga percobaan bunuh diri. Dampak sosialnya, korban bisa mengucilkan diri, merasa kehilangan percaya diri, lebih sensitif kepada teman dan keluarga.
"Pada anak cyberbullying bisa berakibat penurunan prestasi akademik, rendahnya tingkat kehadiran, dan perilaku bermasalah di sekolah," tuturnya lagi.
Menurut survei Literasi Digital di Indonesia pada tahun 2021, Indeks atau skor Literasi Digital di Indonesia berada pada angka 3,49 dari skala 1-5. Skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori sedang.
Sebagai respons untuk menanggapi perkembangan TIK ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital. Program ini didasarkan pada empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada tahun 2024.
Webinar #MakinCakapDigital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siber Kreasi.
Kali ini hadir pembicara-pembicara yang ahli di bidangnya antara lain Enterpreneur dan Digital Marketer, Lim Sau Liang. Sekretaris RTIK Kabupaten Blitar, Nuriyan Dwi Saputri dan Kaprodi Ekonomi Syariah STAI Muhammadiyah Tulungagung, Mei Santi.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program Makin Cakap Digital hubungi info.literasidigital.id dan cari tahu lewat akun media sosial Siberkreasi.
Sumber: akurat.co
Artikel Terkait
PANAS! AHY Singgung Pengkhianatan Anies Baswedan di Pilpres 2024: Kita Ditinggal Begitu Saja, Masih Ingat?
Gibran Dijadwalkan Beri Materi di Akmil, Pengamat: Kapasitasnya Jauh di Bawah Kepala Daerah!
Jokowi Terlalu Perkasa Untuk Diadili?
Pandangan Rocky Gerung Soal Konflik Megawati vs Jokowi