Serangan Udara AS Terhadap Milisi Iran di Suriah dan Irak Menewaskan 39 Orang

Sunday, 4 February 2024
Serangan Udara AS Terhadap Milisi Iran di Suriah dan Irak Menewaskan 39 Orang
Serangan Udara AS Terhadap Milisi Iran di Suriah dan Irak Menewaskan 39 Orang

polhukam.id- Pada Jumat malam (2/2/2024), Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan udara yang menargetkan kelompok milisi Garda Revolusi Iran (IRGC) di Suriah dan Irak. Serangan ini mengakibatkan kematian 39 orang, dengan rincian 23 orang di Suriah dan 16 orang di Irak.

Rami Abdulrahman, Direktur Lembaga Pengawasan Suriah untuk Hak Asasi Manusia, mengungkapkan bahwa para korban tewas adalah petugas keamanan yang menjaga lokasi-lokasi yang menjadi sasaran serangan AS.

Serangan ini disebut sebagai pembalasan atas serangan sebelumnya oleh kelompok milisi Irak terhadap pangkalan militer AS di Yordania, yang menewaskan tiga tentara AS dan melukai 40 lainnya. 

Baca Juga: Afrika Selatan Desak Negara-Negara Hentikan Pendanaan Militer Israel di Jalur Gaza

"Serangan pada Jumat malam itu ditujukan ke lebih dari 85 sasaran di kedua negara," kata Rami seperti dilansir Reuters.

Namun, Duta Besar Iran untuk Suriah, Hossein Akbari, menyanggah bahwa serangan udara AS tidak menargetkan sasaran yang terkait dengan militer Iran. Ia mengklaim bahwa serangan tersebut hanya bertujuan menghancurkan infrastruktur sipil di Suriah dan bukan terkait dengan milisi.

Pemerintah Irak mengumumkan bahwa serangan tersebut menewaskan 16 orang dan melukai 23 lainnya. Daerah-daerah yang menjadi target serangan udara AS mencakup lokasi pasukan keamanan Irak dan daerah dekat dengan permukiman sipil. Sebagai respons, Kementerian Luar Negeri Irak memanggil kuasa usaha AS di Bagdad untuk menyampaikan protes resmi.

Serangan ini dilakukan dengan menggunakan beberapa jenis pesawat, termasuk pesawat pengebom jarak jauh B-1 yang diterbangkan dari pangkalan militer AS. 

Baca Juga: Aksi Mendebarkan: CEO Teknologi Bongkar Rahasia di Depan Senat AS!

Serangan tersebut semakin memperkeruh konflik yang telah merambah ke Timur Tengah sejak pecahnya perang antara Israel dan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, menegaskan bahwa serangan ini merupakan sebuah kesalahan besar yang dilakukan oleh Amerika Serikat.***

Artikel ini telah lebih dulu tayang di: kabarpalu.net

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler