Jadi Pembicara Dalam AICIS 2024, Tokoh Agama Thailand: Bahasan Krisis Kemanusiaan Perlu Libatkan Kaum Muda

Sunday, 4 February 2024
Jadi Pembicara Dalam AICIS 2024, Tokoh Agama Thailand: Bahasan Krisis Kemanusiaan Perlu Libatkan Kaum Muda
Jadi Pembicara Dalam AICIS 2024, Tokoh Agama Thailand: Bahasan Krisis Kemanusiaan Perlu Libatkan Kaum Muda

INIKEBUMEN - Konferensi Internasional Tahunan Studi Islam ke-23 (23th Annual International Conference on Islamic Studies) atau AICIS 2024 di Universitas Islam Negeri Walisongp (UIN Walisongo) Semarang antara lain membahas masalah krisis kemanusian.

Tokoh agama dari Thailand yang hadir sebagai selah satu pembicara AICIS 2024, Phra Dr Anilman Dhammasakiyo, melihat pentingnya melibatkan kaum muda dalam diskusi krisis kemanusiaan,

Menurut Anilman Dhammasakiyo, bahasan tentang upaya mengatasi krisis kemanusiaan pada AICIS 2024 penting untuk disampaikan kepada generasi penerus dengan gamblang.

Baca Juga: Info Lowongan Kerja PT Samsung Electronics Indonesia: Terbuka untuk Lulusan S1, Ini Posisi yang Dibuka

"Bagaimana ide-ide dan pesan-pesan cemerlang di forum ini untuk disampaikan kepada para generasi muda hari ini," kata Anilman Dhammasakiyo, Jumat (2/2), saat berbicara pada temu para pemuka atau pemimpin lembaga keagamaan (religious leaders summit) yang juga menjadi rangkaian AICIS 2024.

Para tokoh dalam forum ini menyampaikan berbagai pemikiran dan membahas solusi atas serangkaian persoalan kontemporer dari perspektif keagamaan. Acara ini berlangsung di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang

Anilman Dhammasakiyo menilai, para generasi muda saat inilah yang akan memegang masa depan. Mereka juga para pelaku yang akan melahirkan budaya.

Baca Juga: Tanggapi Mundurnya Ahok Sebagai Komisaris Utama PT Pertamina, Nusron Wahid: Tidak Ada Peristiwa Politik Baru!

Tokoh agama Buddha dari Kamboja, Venerable Dr Yon Seng Yeath, berbagi perspektif tentang bagaimana melahirkan rasa kemanusiaan dan keadilan.

"Kedamaian mutlak bisa dimulai dari hal kecil yaitu di lingkup keluarga. Dari perspektif agama Buddha, segala hal-hal itu dimulai dari hal kecil. Jika kita tidak bisa memulai dengan hal yang kecil, maka tidak akan bisa melahirkan hal yang besar," kata Yon Seng Yeath.

Setelah keluarga, permasalahan di lingkup komunitas harus diselesaikan. Tak ada konflik di komunitas yang berdasar pada perbedaan.

"Garis besarnya adalah merima perbedaan tidak mencari kesamaan yang memunculkan perpecahan. Perbedaan antarnegara, perbedaan budaya, perbedaan agama, itu tidak masalah," kata Yon Seng Yeath.

Baca Juga: Survei Point Indonesia: Raih Elektabilitas 22,3%, Partai Gerindra Geser Dominasi PDIP

Pertemuan Religious Leaders Summit akan menjadi ajang berbagi perspektif dan wawasan berbasis pengalaman para tokoh agama dalam merespons isu-isu kemanusiaan dan kedamaian. Tokoh agama dari Indonesia yang juga hadir, Elga J Sarapung, menggarisbawahi masih terjadinya kasus kelompok yang mengambil cara untuk memperoleh kedamaian dengan kekerasan.

"Kehidupan itu harusnya saling menghidupkan, bukan saling mematikan, baik karena faktor mayoritas atau minoritas," papar Elga J Sarapung.

Artikel ini telah lebih dulu tayang di: inikebumen.com

Komentar

Artikel Terkait

Terkini