Polda Metro Ungkap AKBP Bintoro Menolak Dipecat Tak Hormat Polri, Kariernya Cukup Bagus

- Senin, 10 Februari 2025 | 14:20 WIB
Polda Metro Ungkap AKBP Bintoro Menolak Dipecat Tak Hormat Polri, Kariernya Cukup Bagus


POLHUKAM.ID -
Polda Metro Jaya mengungkap eks Kasat Reskrim Polres Metro Jaksel, AKBP Bintoro, menolak dipecat tak hormat dari Polri.

Selain AKBP Bintoro, empat polisi lain yang terseret kasus pemerasan anak bos Prodia Arif Nugroho dan temannya Bayu Hartanto, juga menolak dipecat dan mengajukan banding atas hasil sidang KKEP yang digelar Jumat (7/2) lalu.

“Atas keputusan yang telah dibacakan ini, kelima terduga pelanggar menolak dan mengajukan banding atas putusan tersebut,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi di Polda Metro Jaya kepada wartawan, Senin (10/2/2025).

Dalam sidang KKEP, kelima polisi mengajukan banding dengan harapan mendapat sanksi lebih ringan dibandingkan sebelumnya.

Diketahui, dalam sidang etik atau KKEP Propam Polda Metro Jaya yang digelar Jumat (7/2), sebanyak tiga polisi divonis pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) atau dipecat tak hormat dari Polri.

Mereka antara lain eks Kasat Reskrim Polres Metro Jaksel AKBP Bintoro, eks Kanit Resmob Satreskrim Polres Metro Jaksel AKP Ahmad Zakaria, dan eks Kanit PPA Satreskrim Polres Metro Jaksel AKP Mariana.

Sementara dua personel Reskrim Polres Metro Jaksel dijatuhi sanksi demosi selama delapan tahun. Mereka adalah eks Kasat Reskrim Polres Metro Jaksel AKBP Gogo Galesung dan eks Kasubnit Resmob Satreskrim Polres Metro Jaksel Ipda Novian Dimas.

Jejak Karier AKBP Bintoro


Alumni Akpol 2004 pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Polresta Depok pada 2018.

Dia pernah menduduki posisi jabatan sebagai Kanit 2 Subdit 3 Ditreskrimsus Polda Metro Jaya di tahun 2018. Penyidik Madya 1 Polda Metro Jaya.

Pada Agustus 2023, Bintoro diangkat menjadi Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Selatan. Jabatan itu ia emban selama tahun 2023 hingga 2024.

Selama menjabat Kasat Reskrim di Polres Metro Jaksel, Bintoro menangani beberapa kasus yang menyita perhatian publik seperti kasus artis Hana Hanifah, kasus suami dari penyanyi Bunga Citra Lesatri (BCL), yakni Tiko Aryawardhana.

Kemudian kasus Panca Darmansyah yang membunuh 4 anaknya di rumah kontarakan di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Desember 2023. Dan beberapa kasus lainnya.

Kemudian, Bintoro diangkat menjadi Penyidik Madya 6 Ditreskrimsus Polda Metro Jaya sejak Agustus 2024.

AKBP Bintoro disebut menerima sejumlah uang dari keluarga Arif Nugroho dengan perjanjian menghentikan kasus pembunuhan dan pemerkosaan terhadap seorang wanita remaja berinisial FA (16).

Perkara yang menjerat Arif Nugroho dan Muhammad Bayu Hartoyo mempunyai dua berkas perkara yang berbeda, yakni pembunuhan dan pemerkosaan.

Laporan kepolisian terkait kasus ini tercatat dengan nomor LP/B/1181/IV/2024/SPKT/Polres Metro Jaksel dan LP/B/1179/2024/SPKT/Polres Metro Jaksel.***

Sumber: pojoksatu

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

12

JOKO Widodo alias Jokowi sudah lengser. Tak lagi punya kekuasaan. Presiden bukan, ketua partai juga bukan. Di PDIP, Jokowi pun dipecat. Jokowi dipecat bersama anak dan menantunya, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobbby Nasution. Satu paket. Anak bungsu Jokowi punya partai, tapi partainya kecil. Yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai gurem ini tidak punya anggota di DPR RI. Di Pemilu 2024, partai yang dipimpin Kaesang ini memperoleh suara kurang dari empat persen. Pada posisi seperti ini, apakah Jokowi lemah? Jangan buru-buru menilai bahwa Jokowi lemah. Lalu anda yakin bisa penjarakan Jokowi? Sabar! Semua ada penjelasan ilmiahnya. Semua ada hitung-hitungan politiknya. Manusia satu ini unik. Lain dari yang lain. Langkah politiknya selalu misterius. Tak mudah ditebak. Publik selalu terkecoh dengan manuvernya. Anda tak pernah menyangka Gibran jadi walikota, lalu jadi wakil presiden sebelum tugasnya sebagai walikota selesai. Anda tak pernah menyangka Kaesang jadi ketum PSI. Prosesnya begitu cepat. Tak ada yang prediksi Airlangga Hartarto mundur mendadak dari ketum Golkar. Anda juga tak pernah menyangka suara PDIP dan Ganjar Pranowo dibuat seragam yaitu 16 persen di Pemilu 2024. Persis sesuai yang diinginkan Jokowi. Anda nggak pernah sangka UU KPK direvisi. UU Minerba diubah. Desentralisasi izin tambang diganti jadi sentralisasi lagi. Omnibus Law lahir. IKN dibangun. PIK 2 jadi PSN. Bahkan rektor universitas dipilih oleh menteri. Ini out of the box. Nggak pernah ada di pikiran rakyat. Tapi, semua dengan begitu mudah dibuat. Mungkin anda nggak pernah berpikir mobil Esemka itu bodong. Anda juga nggak pernah menyangka ketua FPI dikejar dan akan dieksekusi oleh aparat di jalanan. Juga nggak pernah terlintas di pikiran ada Panglima TNI dicopot di tengah jalan. Ini semua adalah langkah out of the box. Tak pernah terlintas di kepala anda. Di kepala siapa pun. Ketika anda berpikir Jokowi melemah pasca lengser, ternyata orang-orang Jokowi masuk kabinet. Jumlahnya masih cukup banyak dan signifikan. Ketua KPK, Jaksa Agung dan Kapolri sekarang adalah orang-orang yang dipilih di era Jokowi. Ketika anda tulis Adili Jokowi di berbagai tempat, Kaesang, anak Jokowi justru pakai kaos putih bertuliskan Adili Jokowi. Pernahkah Anda menyangka ini akan terjadi? Teriakan Adili Jokowi kalah kuat gaungnya dengan teriakan Hidup Jokowi. Ini tanda apa? Jelas: Jokowi masih kuat dan masih punya kesaktian. Semoga pemimpin zalim seperti Jokowi Allah hancurkan. inilah doa sejumlah ustaz yang seringkali kita dengar. Apakah Jokowi hancur? Tidak! Setidaknya hingga saat ini. Esok? Nggak ada yang tahu. Dan kita bukan juru ramal yang pandai menebak masa depan nasib orang. Kalau cuma 1.000 sampai 2.000 massa yang turun ke jalan untuk adili Jokowi, nggak ngaruh. Ngaruh secara moral, tapi gak ngaruh secara politik. Beda kalau satu-dua juta mahasiswa duduki KPK, itu baru berimbang. Emang, selain 1998, pernah ada satu-dua juta mahasiswa turun ke jalan? Belum pernah! Massa mahasiswa, buruh dan aktivis saat ini belum menemukan isu bersama. Isu Adili Jokowi tidak terlalu kuat untuk mampu menghadirkan satu-dua juta massa. Kecuali ada isu lain yang menjadi triggernya. Contoh? Gibran ngebet jadi presiden dan bermanuver untuk menggantikan Prabowo di tengah jalan, misalnya. Ini bisa memantik kemarahan massa untuk terkonsentrasi kembali pada satu isu. Contoh lain: ditemukan bukti yang secara meyakinkan mengungkap kejahatan dan korupsi Jokowi, misalnya. Ini bisa jadi trigger isu. Ini baru out of the box vs out of the box. Tagar Adili Jokowi bisa leading. Kalau cuma omon-omon, ya cukup dihadapi oleh Kaesang yang pakai kaos Adili Jokowi. Demo Adili Jokowi lawannya cukup Kaesang saja. Jokowi terlalu tinggi untuk ikut turun dan menghadapinya. Sampai detik ini, Jokowi masih terlalu perkasa untuk dihadapi oleh 1.000-2.000 massa yang menuntutnya diadili. rmol.id *Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

👁 5 Views