Berangkat dari Magelang Pukul 10.00, Masuk Akal Gak Nyonya Ferdy Sambo dan Rombongan Ajudan Nyampe Jakarta Pukul 15.00?

  • Bagikan
X
Polhukam.id, Jakarta - Sebuah temuan baru dari kasus polisi tembak muncul setelah adanya beberapa rekaman CCTV, salah satunya pertanyaan seputar waktu kejadian baku tembak di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo, di Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Selama beberapa pekan terakhir, kronologi versi polisi menyebut peristiwa tragis tersebut terjadi sekitar pukul 17.00 WIB.

Sebelum terjadi baku tembak, lima orang yang ada di lokasi kejadian sempat dites PCR di garasi rumah pribadi Irjen Ferdy Sambo yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah dinas.

Dugaan awal tes PCR di rumah pribadi dilakukan sekitar pukul 15.00-16.00.

Namun, dari rekaman CCTV di rumah pribadi Sambo, kuat dugaan tes PCR dilakukan saat waktu hampir mendekati maghrib.

Baca Juga: Temuan Baru Kasus Kematian Yosua dari Rekaman CCTV: Baku Tembak Diduga Tidak Terjadi Pukul 17.00, Tapi di Malam Hari

Sebagai pengingat, istri Ferdy Sambo beserta rombongan melakukan tes PCR seusai menempuh perjalanan dari Magelang.

Dalam perjalanan itu turut serta dua ajudan Ferdy yang terlibat baku tembak, yakni Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, serta Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E.

Mereka disebut berangkat pukul 10.00 dan sempat singgah di rest area tol Cipali.

Jika patokannya Duren Tiga, maka jarak Magelang ke Jakarta yang ditempuh Nyonya Sambo dan para ajudan suaminya itu mencapai sekitar 511 kilometer dengan dikawal satu mobil patwal.

Setiba di Duren Tiga, Putri dan rombongan menjalani swab di rumah pribadi, lalu kemudian ke rumah dinas.

Di rumah dinas itulah kejadian tak terduga terjadi. Yosua disebut-sebut melecehkan Putri Candrawathi sebelum akhirnya tewas dalam baku tembak dengan Richard.

Baca Juga: Rekaman CCTV Perlihatkan Irjen Ferdy Sambo Melakukan Sesuatu Sebelum Baku Tembak 2 Anak Buahnya, Kira-kira Lagi Ngapain ya, Pak Jenderal?

Terkait temuan waktu kejadian ini, Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menyatakan pihaknya akan mendalami waktu perkiraan kejadian lewat metode cell dump.

Pada metode ini, jalur komunikasi dari ponsel orang-orang yang terkait kasus akan dilacak lewat call data record atau CDR.

CDR dikumpulkan oleh setiap operator. Di dalamnya ada daftar berisi pesan masuk, panggilan masuk maupun panggilan keluar.

Komnas HAM sudah mendapatkan data CDR dari Labfor Polri.

Sumber: suara.com

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan Anda ke alamat email [email protected].
  • Bagikan