Perkara Jumlah Tembak dan Bukti Penganiayaan pada Tubuh Brigadir J, Pakar Hukum: Apahkah Perlu Lima Peluru untuk Pastikan Hingga Mati?

  • Bagikan
X

Polhukam.id, Jakarta - Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun menyoroti peristiwa baku tembak polisi yang menewaskan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J.

Hal tersebut ditanggapi Refly Harun melalui video di akun YouTube pribadinya. Dalam video tersebut, Refly Harun kerap menyinggung soal penjelasan dari pihak kepolisian soal kronologi peristiwa polisi tembak polisi itu.

Refly Harun mengatakan bahwa kronologi yang diceritakan pihak kepolisian soal adanya penembakan antara dua orang prolisi di rumah Irjen Ferdy Sambo itu adalah versi kronologi yang beredar di masyarakat.

"Ini adalah versi yang eh selama ini beredar ya dari pihak kepolisian. Cuma masalahnya versi ini adalah versi yang tidak dipercayai oleh pihak keluarga. Karena versi ini adalah versi yang ujungnya ada pelecehan dan penodongan terhadap Putri oleh Brigadir Yoshua yang kalau kemudian kita time framenya wah nekat sekali ini orangnya," ungkap Refly Harun melalui video di akun YouTube pribadinya, dikutip Rabu (27/7).

Menurut Refly Harun, ada kejanggalan dari kronologi versi pihak kepolisian karena di dalam rumah Irjen Ferdy Sambo jelas para ajudan masih di sana. Kemudian juga Irjen Ferdy Sambo pun hanya sebentar dan hendak langsung pulang pulang usai melakukan tes PCR yang letaknya tidak jauh.

"Terkait dengan Irjen sambo sebagaimana diberitakan oleh kumparannews ya ternyata ah Irjen stambul menurut informasi PCR di rumah pribadi yang jaraknya cuma 500 meter dari lokasi tewasnya Brigadir Yoshua," tutur Refly Harun.

Sumber: nw.wartaekonomi.co.id

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan Anda ke alamat email [email protected].
  • Bagikan